Pesawat Tempur (A-4 Skyhawk) Lengkapi Monumen di Landasan Udara Abdulrachman Saleh
Kamis, 10 Maret 2016
Berlangganan

Pesawat Tempur (A-4 Skyhawk) Lengkapi Monumen di Landasan Udara Abdulrachman Saleh


Wartaharian - Monumen pesawat di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh dilengkapi Pesawat tempur A-4 Skyhawk , di Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis Kabupaten Malang Jawa Timur.

Monumen pesawat ini telah memperkuat Republik Indonesia sejak 1980 dan didirikan di depan Kantor Depo Pemeliharaan 30 atau Depohar 30 yang baru.

Kepala Penerangan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Mayor Hamdi Londong Allo mengatakan, sejak dipensiunkan pada 2 Agustus 2004, 32 pesawat A-4 telah dijadikan monumen di berbagai kota di Indonesia. Seluruh pesawat ini sebelumnya 'ditempatkan' di Skadron Udara 11 Wing 5 Pangkalan Udara Utama Hasanuddin Makassar.

"Pesawatnya langsung didatangkan dari Makassar,” kata Londong, Rabu (9/3/2016).Pesawat tempur buatan McDonnell Douglas, Amerika Serikat, itu disebar ke banyak daerah untuk dijadikan monumen. Di antaranya di Museum Mandala dan Akademi Angkatan Udara di Yogyakarta; taman kota Sengkang di Sulawesi Selatan; Kota Lampung; Majalengka, Jawa Barat; Pangkalan Udara Iswahyudi di Madiun, Jawa Timur; Kota Cepu, Jawa Tengah; Banda Aceh, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dan Kecamatan Kalijati di Kabupaten Subang, Jawa Barat. 

Pesawat Skyhawk A-4 bermesin turbojet ini pernah menjadi andalan Amerika Serikat di berbagai medan perang. Pesawat yang diproduksi McDonnell Douglas pada 1962 ini juga menjadi salah satu alat tempur andalan pada masa Perang Vietnam.

Sejarah mencatat, kedatangan Skyhawk ke Indonesia melalui proses pembelian yang penuh kerahasiaan karena berkaitan dengan negara Israel. Secara teknis Indonesia membeli Skyhawk dari Amerika Serikat, tapi barangnya ada di Israel. Lewat Operasi Alpha, sebanyak 31 unit A-4E tempat duduk tunggal (single seater) dan dua unit TA-4 H tempat duduk ganda (dual seater) mulai dikirim sejak Mei 1980. Pengiriman berlangsung selama 21 bulan dan berakhir pada 31 Agustus 1982.

Londong berharap, monumen ini bisa berguna bagi para siswa dan masyarakat yang berkunjung ke Depohar 30 untuk menambah pengetahuan dunia dirgantara.