Kacamata Buto Ijo meraih Rekor MURI Indonesia Tahun 2016
Rabu, 09 Maret 2016
Berlangganan

Kacamata Buto Ijo meraih Rekor MURI Indonesia Tahun 2016



Wartaharian - Kacamata Gerhana Matahari yang dibuat oleh Komunitas Astronomi Imah Noong di Lembang,  yang diberi nama Kacamata Buto Ijo berhasil meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kacamata gerhana matahari dengan ukuran terbesar.

Kepala Dinas Pariwisata Bangka Belitung Bapak Tajuddin dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, menyebutkan kacamata buatan komunitas astronomi itu memang berukuran jumbo dan akan digunakan untuk meneropong fenomena gerhana di Bangka Belitung.

"Kacamata ini bukan kacamata biasa, melainkan kacamata yang dibuat dengan filter anti UV berukuran panjang 960 centimeter dan lebar 60 centimeter," katanya.

Kacamata diberi nama "buto ijo" sebagai filosofi yang berarti raksasa pemakan matahari, dalam mitologi Jawa. Oleh karena itulah, Museum Rekor Indonesia (MURI) akan mencatat ide kreatif ini dalam rekor baru.
"Ide gila ini berasal dari Komunitas Astronomi 'Imah Noong' yang merupakan sekumpulan warga Kampung Areng Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Jawa Barat. Ukurannya jumbo," katanya.

Kacamata itu menggunakan satu bingkai dan didesain memiliki sembilan lubang. "Dijamin aman, karena di setiap lubang dipasangi filter berbahan black polimer neutral density (ND)-5," katanya.

Saat Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 yang melintasi 12 provinsi di daratan Indonesia itu Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memang mendorong semua daerah untuk membuat kreasi event, untuk dipromosikan ke seluruh penjuru dunia.

Kacamata gerhana buto ijo dinilai merupakan satu di antara bentuk kreativitas yang unik yang akan dicatat rekor MURI.

"Kacamatanya benar-benar jumbo. Kalau dibentangkan, kacamata raksasa ini bisa dipakai bersama-sama oleh 45 orang sekaligus. Sekarang kacamatanya sudah ada di Pantai Terentang, Bangka. Tinggal nunggu dipasang filternya," katanya.

Kacamata tak lazim itu juga ternyata sukses memikat minat wisawatawan mancanegara untuk berkunjung ke Pantai Terentang. Wisatawan Jepang, Malaysia, Tiongkok, Prancis, dan negara-negara Eropa sampai rela antre untuk mendekat ke kacamata jumbo tersebut.

"Dari keterangan Komunitas Astronomi Imah Noong, pembuatan kacamata ini menghabiskan biaya sekitar Rp60 juta. Yang mahal bingkai kacamatanya yang menggunakan bahan akrilik. Filternya juga enggak murah karena bahannya mencapai Rp15 juta," kata Bapak Tajuddin.