LGBT adalah 'penyakit sosial', perlu pencerahan
Kamis, 18 Februari 2016
Berlangganan

LGBT adalah 'penyakit sosial', perlu pencerahan



Menteri Agama Lukman Saifuddin ikut berkomentar perihal isu yang sedang menghangat akhir-akhir ini, tentang kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Menurut Lukman, LGBT adalah "penyakit sosial" dan perlu diberi pencerahan.

"Kita harus memberikan pencerahan. Setidak-tidaknya kita bisa merangkul mereka keluar dari penyakit sosial," kata Lukman, pada Sabtu, 13 Februari.

Menurutnya, keluarga bisa berperan dalam menangani "penyakit sosial" yang disebut LGBT tersebut. Karena itu, Kementerian Agama, ujarnya, akan lebih serius dalam meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan di tingkat keluarga.
"Madrasah juga menjadi fokus kita dalam membentengi generasi muda, membekali mereka dengan pemikiran kritis sehingga tidak mudah dipengaruhi paham-paham yang tidak sesuai dengan Islam," katanya.

Kepada para da'i, Lukman mengingatkan bahwa hakikat dakwah adalah mengajak umat ke jalan yang baik dan benar dengan cara-cara yang benar, seperti Rasulullah mengajak umat dengan lemah lembut atau tidak mengedepankan kekerasan.

Polemik mengenai LGBT menghangat beberapa pekan ini. Dimulai dari kisruh klub seksualitas Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia.
Studi klub ini dituding sebagai klub gay dan lesbian, meski kegiataannya salah satunya penyuluhan tentang kekerasan dalam masa pacaran.
Kemudian polemik semakin menghangat setelah Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Natsir memberikan pernyataan pers terkait isu pelarangan LGBT di lingkungan kampus.
Abdul Muiz Ghazali, dosen dan peneliti pluralisme di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon mengatakan usulan Lukman ada baiknya. "Saya setuju, kalau ada pencerahan soal agama, tapi tidak mengganggu orientasi seksualnya," kata Muiz pada Rappler sore ini.
Menurutnya, Kemenag tak perlu membuang energi melakukan pencerahan untuk mengubah orientasi kaum homoseksual. "Kita bisa bandingkan kalau orang heteroseksual dipaksa jadi homoseksual," ujarnya.
Muiz merekomendasi agar pemerintah fokus memberdayakan kaum LGBT di dunia ekonomi, tanpa mengganggu orientasi seksual mereka, tanpa perlu berkomentar soal penyakit sosial.