Anak Loper Koran ini Tak Sadarkan Diri dan Butuh Bantuan, Kena Virus Otak
Minggu, 21 Februari 2016
Berlangganan

Anak Loper Koran ini Tak Sadarkan Diri dan Butuh Bantuan, Kena Virus Otak


Muhammad Saifullah, balita berusia 2 tahun itu terbaring lemah di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU), RS Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dia didiagnosa terserang virus di otak.

Saifullah telah 2 hari dirawat di ruang steril itu. Kondisinya saat ini sedang tak sadarkan diri.

"Dari rumah dia enggak sadar. Sampai sekarang masih belum sadar," kata ayah Saifullah, Edi (37) kepada detikcom, Sabtu (20/2/2016) malam.

Edi menceritakan, sejak seminggu yang lalu, anak satu-satunya ini muntah-muntah. Dia dan istrinya, Kasyati (23) menduga tubuh Saifullah sedang beradaptasi dengan cuaca, sehingga anaknya ini tak dibawa ke dokter.

"Sekarang kan musim pancaroba, saya kira karena perubahan musim itu. Tapi ternyata setiap makan selalu muntah sampai pingsan, terus kita bawa ke dokter," kata Edi yang sehari-hari bekerja sebagai loper koran di perempatan Matraman, Jakarta Timur ini.

Edi yang penghasilan sehari-harinya jauh dari nilai layak ini meminta putranya dirawat di kelas 3. Namun karena penuh, akhirnya Saifullah dirawat di kelas 2, tentu dengan kompensasi harga lebih mahal.

"Saya enggak punya KJS atau Jamkesmas karena enggak punya KTP. Ini baru mau bikin," kata Edi yang kini hanya memiliki satu kaki untuk menapak itu.

Setelah dokter mendiagnosa Saifullah terserang virus di otak, Edi harus menandatangani kesanggupan membayar biaya perawatan di ruang PICU. Jika memakai logika, Edi mengaku tak sanggup membayarnya. Namun demi kesehatan sang putra, Edi tak ragu untuk menandatangani surat tersebut.

"Saya enggak mikir lagi deh itu nanti uang dari mana. Yang penting anak saya sembuh dulu," ucap Edi.

Dia kemudian membayar DP biaya perawatan Saifullah dari uang pribadi dan pinjaman teman sebesar Rp 1,5 juta. Sementara biaya totalnya jauh lebih mahal. Edi mengatakan, untuk ruang rawat inap di kelas 2 Dahlia, biaya yang dihabiskan sebesar Rp 2,6 juta. Sementara di ruang PICU, biaya per malam Rp 1,5 juta, biaya dokter Rp 100 ribu belum ditambah biaya obat-obatan.

Edi tak memiliki rekening bank. Bagi pembaca yang ingin membantu, dapat menemui Edi di perempatan Matraman atau menemuinya di ruang tunggu PICU, RS Pasar Rebo, Jaktim.

Edi adalah loper koran yang memiliki semangat hidup tinggi meski hanya menapak dengan satu kaki. Pada tahun 2002 dia tertabrak kereta sehingga kaki kanannya harus diamputasi. Pekerjaannya sebagai kernet truk atau bus otomatis tak dapat dilanjutkannya lagi.

Namun Edi tak patah semangat. Saat dijumpai detikcom di perempatan Matraman tahun 2014 lalu, Edi mengatakan, baginya tidak ada istilah orang miskin, melainkan orang tidak bahagia. Edi mengaku tak mau dikatakan miskin, karena dia masih bisa bahagia.

"Punya istri yang mencintai saya apa adanya dan satu anak, gimana saya tidak bahagia?" kata Edi kala itu.