Ini Tantangan Tawan Si Iron Man Buat Yang Nuduh Robot Tangan Ciptaannya Hoax
Sabtu, 23 Januari 2016
Berlangganan

Ini Tantangan Tawan Si Iron Man Buat Yang Nuduh Robot Tangan Ciptaannya Hoax


WARTAHARIAN.CO - I Wayan Sumardana alias Tawan dijuluki manusia robot dari Bali. Hal itu setelah sebagian tubuhnya dipenuhi peralatan besi yang mampu menggerakkan tangan kirinya yang mengalami kelumpuhan.

Alhasil, ia laiknya manusia yang digerakkan oleh alat elektronik. Ada perbedaan mencolok ketika Sumardana menjadi manusia robot dan tidak.

Jika ia melepas alat tersebut, Sumardana tampak murah senyum dan pemalu. Namun, kala ia memakai alat robotiknya, bapak tiga anak ini sedikit berubah perangainya.

Ia tampak lebih serius dan terlihat tegang. Bicaranya pun ceplas-ceplos dan lugas.
“Kalau saya tidak pakai alat itu ya, begini lah. Santai orangnya. Kalau pakai alat itu, harap maklum dan mohon maaf, agak berubah,” kata Sumardana saat ditemui VIVA.co.id di bengkelnya, Kamis 21 Januari 2016.
Memakai alat itu, ia melanjutkan, terasa sakit di kepala dan menguras energi. Konsentrasi penuh dan mengosongkan pikiran adalah kunci agar dapat terkoneksi dengan alat yang mayoritas dirakit sendiri dari barang rongsokan tersebut.
“Harus fokus dan sedikit sakit kalau pakai alat itu. Kalau mau terkoneksi harus fokus, kosongkan pikiran,” ujarnya.
Jika sudah begitu, akan tergambar tombol-tombol yang merupakan simbol eta, beta, meta dan alfa. Kita sudah bisa menggunakan alat tersebut.

Sumardana memberi kesempatan VIVA.co.id menggunakan alat tersebut. Begitu dihidupkan, aliran listrik terasa sangat kuat mengalir di kepala.

Terasa aliran listrik berkedut dari kening sebelah kanan mengalir ke belakang kepala. Selanjutnya, Sumardana meminta agar mata dipejamkan, pikiran dikosongkan. Tujuannya untuk memfokuskan diri.

Warna biru langit tergambar jelas. Sayangnya, setelah mencoba sekira 10 menit, VIVA.co.id gagal menggerakkan alat tersebut secara otomatis. Kepala terasa sakit dan berat.

Penasaran dengan alat tersebut, seorang pria bernama Irvan ikut mencoba alat rakitan pria jebolan SMK Rekayasa Denpasar itu.

Yang ada di benaknya kala tu memejamkan mata adalah hutan belantara.

“Saya melihat hutan belantara, lalu ada mobil. Kepala saya di belakang sakit,” kata Irvan.
Irvan pun gagal menggerakkan alat yang dibuat tukang las itu.

“Sayang sekali alat saya ini tak bisa digunakan untuk orang lain. Kalau ada yang berhasil, saya kasih alat saya ini untuk dia,” gumam Sumardana.

Sebelum membuat alat bantu tangan kirinya, Sumardana merancangnya dengan baik melalui skema yang dipelajarinya di internet.

“Skemanya sederhana, di kepala itu ada power supply. Dia sebagai penangkap dan pembagi. Lalu ada drone, elektroda dan lainnya. Posisinya ditempel di kepala sebagai penangkap sinyal, alpa, delta, nata dan eta,” papar dia.

Selanjutnya ada pula tuning potensio, sensor ultasonik, sensor infra merah, sensor jumlah putaran dinamo. Tuning potensio merupakan rangkaian pengolah input dan output mikro kontroler.

Sensor ultrasonik, infra merah dan sensor jumlah putaran dinamo merupakan rangkaian penguat hasil (power). Lalu ada pula batre litiumoin. Ada pula Electro Encephalo Graphi (EEG).Kesemuanya tersambung kepada dinamo.

“Kalau dayanya lemah, maka harus dicharge. Biasanya malam, pukul 00.00 WITA hingga 07.00 WITA. Ketahanannya tergantung beban pekerjaan,” ujarnya.


sumber: viva.co.id